Friday, January 23, 2015

Supply-Demand dan Pergerakan Harga Minyak

Seperti yang dibahas dalam tulisan tentang penyebab yang mempengaruhi harga minyak, faktor supply-demand adalah faktor yang paling mendasar dalam mempengaruhi harga minyak. Geopolitik karena kondisi politik produsen minyak (timur tengah) berujung pada kepastian supply, sedangkan paper oil market hanya mempengaruhi secara jangka pendek (short-run) lebih karena sentimen pasar dan aktivitas. Pengguna minyak yang riil dari industri sampai konsumen retail lah yang mempengaruhi demand sesungguhnya dari minyak.

Kurva supply-demand secara sederhana digambarkan dalam grafik di bawah (1), dimana bertemunya kurva supply dan demand akan terbentuk ekuilibrium, harga pasar (P*) dan jumlah barang/jasa yang ditransasikan (Q*).


Kemudian, terdapat beberapa fenomena yang menyebabkan bergesernya kurva supply dan demand, misalnya karena pengaruh teknologi sehingga biaya produksi menjadi lebih murah (jumlah yang sama bisa didapatkan dengan harga pasar lebih murah, kurva supply bergeser ke kanan), atau meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga meningkatkan jumlah permintaan (harga lebih mahal, kurva demand bergeser ke kanan).

Contoh pergeseran kurva supply-demand seperti gambar berikut (2), dimana S2 adalah biaya produksi yang semakin mahal menjadikan jumlah barang yang sama Q1 harus naik harganya dari p3 ke p1. Tapi karena kurva demand tetap (D1), maka harga barang menjadi P1 dengan jumlah Q1. Sedangkan pergeseran kurva demand contohnya dari D1 ke D2 karena menurunnya daya beli masyarakat sehingga dengan jika kurva supply S2 maka menjadi harga kembali menjadi P0, atau jika kurva supply tetap S1 maka harga menjadi P3.

Lalu, apakah kurva supply & demand minyak mengikuti pola sesuai dengan grafik diatas? Secara definisi mengikuti, dimana ketika terjadi supply dan demand maka terbentuklah harga dan kuantitasnya. Namun, kurva supply-demand minyak sangat khas karena karakteristik unik demand-supply minyak dimana tidak seperti industri lain dimana perubahan demand yang cepat bisa diikuti dengan perubahan di sisi supply.

Contohnya, ketika harga minyak naik karena demand naik dimana secara kurva supply, produsen akan tergiur untuk meningkatkan produksi sebanyak mungkin, namun industri minyak tidak bisa cepat merealisasikannya karena proyek untuk memproduksi minyak (eksplorasi, pengembangan, produksi) membutuhkan bertahun-tahun. Ketidakelastisan kurva supply minyak ini bisa digambarkan dalam grafik di bawah.
Kenaikan harga dari P1 ke P2 tidak bisa membuat supply meningkat signifikan karena kapasitas produksi minyak Q1. Kenaikan harga P2 hanya bisa diimbangi oleh produksi Q2 atau Q3 yang membutuhkan beberapa tahun lamanya dengan tambahan proyek baru untuk meningkatkan produksi minyak. Harga P3 adalah harga minimal produsen (break-even) untuk menutup biaya produksinya.

Begitu pula sebaliknya, ketika harga minyak turun tidak serta merta membuat produsen mengurangi produksi karena terdapat alasan teknis, misalnya demi mengatur tekanan bawah tanah atau reservoir pressure (bayangkan, ketika sumur minyak mengalir kemudian ditutup tiba-tiba, bisa jadi ketika dibuka lagi sudah berbeda tekanan dan bahkan komposisi minyak-air-gas nya), atau faktor non-teknis misalnya untuk menjaga pendapatan negara.

Hal ini kemudian terbukti akhir-akhir ini ketika harga minyak berada di kisaran USD 50/barrel dimana tengah tahun 2014 masih diatas USD 100/barrel, OPEC sebagai supplier sekitar 35% minyak dunia tetap memutuskan untuk menjaga produksi minyak di sekitar 30 juta barrel per hari. Hal tersebut tentu juga memberatkan negara-negara OPEC sendiri mengingat hampir semua negara OPEC menjadikan minyak sebagai pendapatan utama negaranya.

Bahkan menurut data berikut (3), negara produsen minyak (OPEC ataupun Non-OPEC) mempunyai nilai break-even berapa harga minyak yang bisa mencukupi kebutuhan fiskal negaranya. Hal ini dikenal dengan target-revenue model. Oleh karenanya, tidak mudah bagi produsen minyak untuk menurunkan jumlah produksi minyak meskipun harga minyak turun drastis, karena akan membuat mereka semakin menderita.

Secara grafik, target-revenue model tersebut bisa digambarkan seperti di bawah. Harga minyak awal P1, dimana produsen produksi minyak di Q1. Mereka senang karena melebihi dari kebutuhan budget (I, Investment). Jika suatu negara dibatasi produksinya oleh OPEC ke Q2 untuk mengindari over-supply, maka besar kemungkinan negara tersebut akan meminta kuota menjadi Q* untuk memenuhi budget nya atau melakukan cheating dengan menjual oil diam-diam sehingga total produksi tetap Q*. Disini, harga minyak minimal (break-even) untuk target-revenue model adalah P*.
Sehingga bisa dipahami, meskipun harga minyak turun sampai di bawah USD 50/barrel bulan ini, negara produsen akan tetap produksi minyak meskipun tidak bisa 100% sesuai kebutuhan budget mereka.  Karena jika mengurangi produksi, kondisinya akan makin berat untuk fiskal negara tersebut. Oleh karena itu, dalam meeting terakhir OPEC 27 November 2014 tetap menjaga produksi minyak mereka di leval 30 juta barrel per hari (4). Selain itu, OPEC tidak mau ‘berkorban sendiri’ karena faktanya OPEC ‘hanya’ mensuplai sekitar 35% dari total kebutuhan minyak dunia (sekitar 91 juta barrel per hari rata-rata 2014).

Dalam hal ini, OPEC tampak jelas membiarkan harga minyak terjun bebas hari ini (saat sebelum meeting harga minyak kisaran USD 70/barrel). Dimana penyebab oversupply minyak adalah produksi shale-oil dari USA yang membuat produksi minyak Amerika meningkat dari 8 juta barrel per hari tahun 2008 menjadi 12 juta barrel 2014. Amerika hari ini tercatat sebagai negara produsen terbesar minyak sekaligus importir terbesar, serta konsumen terbesar 19 juta barrel per hari (5). Oleh karena itu, tren meningkatnya produksi minyak Amerika sampai beberapa tahun ke depan direspon dengan harga minyak rendah.

Disinilah OPEC memberikan ‘test’, apakah proyek shale-oil minyak Amerika bisa bertahan pada harga minyak di bawah USD 50. Di negara teluk sendiri, harga USD 50 meskipun tidak bisa memenuhi kebutuhan budget mereka tapi masih bisa menutupi biaya produksi minyaknya. Meskipun OPEC tidak hanya negara teluk yang mempunyai biaya produksi rendah (misal Venezuela yang tinggi biaya produksi), namun karena lobi dalam OPEC sendiri ditentukan oleh banyaknya produksi minyak masing-masing negara. Disini Arab Saudi dengan produksi terbesar yakni 9.5 juta barrel per hari dan negara-negara Arab menjadi dominan penentu arah OPEC.

Lalu, bagaimana dengan demand minyak? Secara umum kurva demand relatif lebih elastis secara jangka pendek (short-run) dibandingkan jangka panjang (long-run), yang mana ditunjukan oleh studi OECD dalam tabel di bawah (5).  Walaupun kondisinya berbeda-beda antara kelompok negara, secara umum elastisitas income terhadap oil demand secara jangka pendek (short-run) lebih tinggi dibandingkan jangka panjang (long-run). Khusus EU, India dan Indonesia, kondisinya menarik karena pengaruh pendapatan masyarakat terhadap konsumsi minyak lebih terasa di long-run daripada short-run.


Perubahan elastisitas income dalam jangka panjang menjadi kurang elastis dikarenakan faktor supply yang tidak elastis menyebabkan konsumen menyesuaikan diri terhadap kondisi supply yang ada. Misalnya ketika income (GCP) meningkat, permintaan minyak meningkat namun karena supply terbatas, maka harga naik yang kemudian diikuti oleh penyesuaian permintaan minyak.  Dan saat income (GDP) turun, maka permintaan turun menyebabkan harga turun dan membuat konsumen untuk mengkonsumsi minyak lebih kembali pada harga barunya.

Kurva demand dan supply minyak yang tidak elastis (inelastic) menjadi salah satu penyebab utama volatilitas harga minyak dunia. Kondisi Geopolitik termasuk posisi OPEC, dan pelaku pasar perdagangan minyak adalah dua hal penting lain yang juga mempengaruhi pergerakannya. Hal ini bisa digambarkan dalam interaksi antara supply-demand minyak digambarkan dalam grafik di bawah.

Demand awal (D0) dan Supply awal (S0) dimana harga minyak P0. Karena pengaruh geopolitik sehingga pasokan dari produsen minyak yang mempunyai biaya produksi murah berkurang (misal timur tengah), maka minyak akan semakin mahal sehingga kurva supply bergeser dari S0 ke S1. Dengan kondisi itu, pasar (paper oil market) bereaksi negatif dan membeli minyak sebanyak-banyaknya hari ini karena beranggapan bahwa pasokan di masa mendatang akan lebih sulit (harga semakin naik) karena berkurangnya pasokan dari produsen minyak. Maka kurva demand bergeser ke D1, sehingga membentuk harga baru P1 dengan jumlah Q1. Namun, karena reaksi pasar tersebut hanyalah sentimen dimana kondisi riil pengguna minyak (industri, retail, dll) tetap sama yakni demand D0, maka harga akan menyesuaikan kembali menjadi P2 dengan jumlah Q2.

Pergerakan harga minyak seringkali melalui fase-fase seperti diilustrasikan diatas. Dari penjelasan tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa  pengaruh geopolitik dan pasar minyak bersifat lebih temporal dibandingkan supply-demand minyak yang mendasar pengaruhnya dan jangka panjang (long-run)

Referensi:
(1)http://education-portal.com/academy/lesson/calculating-equilibrium-price-definition-equation-example.html#lesson
(2) http://www.theoildrum.com/node/2899
(3) http://www.bbc.co.uk/news/business-29643612
(4) http://www.opec.org/opec_web/en/press_room/2938.htm
(5)http://www.opec.org/opec_web/static_files_project/media/downloads/publications/MOMR_January_2015.pdf

1 comment:

Azril CB said...

Renyah nih tulisan buat sya memahami metkul makro ekonomi